Jumat, 09 November 2012
Dikala Sepi
Sepi seperti menjadi teman terbaik, dalam sepi ada tangis yang tak seorang pun dapat melihat, dalam hening, ada jeritan yang tak seorang pun dapat mendengar. Dia kian memudar, terbang tertiup angin malam yang berhembus kencang, mencari kehidupan baru tanpa raga yang tertikam, namun angin membawanya kembali, dia masih mengusung pedih, namun tak lagi sedih...
Rintikan Rindu
Hujan yang sama, kerinduan yang memeluk raga, kopi hangat mengepul di derasnya rindu yang merajalela, aku tenggelam di dalamnya, di antara semerbak harum wangi kopi, sejuknya hujan dan kerinduan yang mengisi...
Kuamati satu demi satu rintikan rindu yang jatuh, bercampur dengan kopi yang kuseduh, aku tak ingin melawan, rindu ini bukan mainan, kopi dan hujan, dimana aku menunggumu datang...
Kuamati satu demi satu rintikan rindu yang jatuh, bercampur dengan kopi yang kuseduh, aku tak ingin melawan, rindu ini bukan mainan, kopi dan hujan, dimana aku menunggumu datang...
Malam Memilih Rindunya Sendiri
Malam memilih rindunya sendiri, sepertiku yang memilihmu menjadi permaisuri hati. Gelap, malam menghitam, hening penuh bayangmu di angan, rindu ini semakin bermekaran, tumbuh semakin besar tanpa mampu ku lawan. Mawar untukmu masih kusimpan, ku rawat dengan kasih dan sayang agar wanginya tak memudar...
Bahagia Yang Membahagiakan
Bahagia yang paling membahagiakan adalah saat bersamamu, berada di dekatmu dan dapat menikmati senyummu. Sesederhana itulah bahagiaku, aku tak berharap lebih dari yang tidak aku tahu, aku hanya berusaha menikmati setiap detik saat bersamamu. Kadang, beberapa moment berlalu terlalu cepat, aku hanya tidak ingin kehilangan bahagiaku, senyummu masih membekas dalam ingatan, bait rindu akan selalu tetap kunyanyikan, aku menunggumu datang dalam pelukan...
Kamis, 01 November 2012
Menunggumu Disini
Merindumu, melihat senja ada wajahmu, indahnya seperti senyummu, ku nikmati apa yang tertinggal darimu..
Kopi ini tak lagi nikmat, semakin dingin karena hitamnya melebur dengan air hujan yang kian lebat, seperti hati yang tersayat, sementara sang waktu masih sibuk berdebat mempertemukan kita di saat yang tepat...
Tak ku pungkiri, bersamamu adalah saat ternyaman hingga saat ini, membayangkanmu membuatku tersenyum sendirian di hening yang sepi, memang tak perlu teori jika hati sudah terlanjur menyayangi, meski angan hanya menyimpan ilusi, tapi bayangmu memang tak pernah pergi, mencuri perhatian, hingga hati tak mampu melawan rindu ini..
Aku akan terus disini, menunggumu tersenyum lagi, tak peduli seberapa lama waktu berjanji, pintu hatiku selalu terbuka menunggu kau singgahi...
Kopi ini tak lagi nikmat, semakin dingin karena hitamnya melebur dengan air hujan yang kian lebat, seperti hati yang tersayat, sementara sang waktu masih sibuk berdebat mempertemukan kita di saat yang tepat...
Tak ku pungkiri, bersamamu adalah saat ternyaman hingga saat ini, membayangkanmu membuatku tersenyum sendirian di hening yang sepi, memang tak perlu teori jika hati sudah terlanjur menyayangi, meski angan hanya menyimpan ilusi, tapi bayangmu memang tak pernah pergi, mencuri perhatian, hingga hati tak mampu melawan rindu ini..
Aku akan terus disini, menunggumu tersenyum lagi, tak peduli seberapa lama waktu berjanji, pintu hatiku selalu terbuka menunggu kau singgahi...
Senja dan Rindu
Ombak dalam hati kian beradu, pasang-surut perasaanku kepadamu, batu karang seperti menjadi penghambat langkahku, akhirnya, aku memilih diam tenggelam ke dalam lautan rinduku...
Embun pagi, kicauan burung kenari, memori tentangmu yang selalu ku ukir menjadi bait rindu di lembaran sunyi, senyummu adalah satu-satunya alasan kenapa ragaku masih bertahan disini...
Rindu ini bagai mawar, kian bermekaran, perlahan jatuh satu demi satu saat musim semi, namun selalu tumbuh lagi, tak pernah mati...
Selalu ada bait rindu di dalam merahnya senja, sedalam rinduku untukmu yang disana...
Embun pagi, kicauan burung kenari, memori tentangmu yang selalu ku ukir menjadi bait rindu di lembaran sunyi, senyummu adalah satu-satunya alasan kenapa ragaku masih bertahan disini...
Rindu ini bagai mawar, kian bermekaran, perlahan jatuh satu demi satu saat musim semi, namun selalu tumbuh lagi, tak pernah mati...
Selalu ada bait rindu di dalam merahnya senja, sedalam rinduku untukmu yang disana...
Langganan:
Postingan (Atom)

